Waspadai Pandemic Fatigue, Berpotensi Gagalkan Penanggulangan Covid-19

Liputan6. com, Jakarta Hingga kini, Pandemi Covid-19 belum berakhir. Hampir 8 bulan virus corona menyebar di Indonesia, semenjak kasus pertama diumumkan pada dua Maret 2020. Kasus-kasus baru pula masih menunjukkan peningkatan. Penyebaran Covid-19 belum bisa dikendalikan, meski sebanyak upaya pencegahan virus sudah dilakukan.

Kini faktor yang mempersulit pengendalian pandemi di asing PSBB dan penanganan medis merupakan kelelahan karena pandemi atau “pandemic fatigue” diantara masyarakat.

Pandemic fatigue merupakan kondisi kelelahan secara fisik dan mental yang dialami seseorang karena ia sudah bosan dengan situasi pandemi.

Mengutip laman WHO, pandemic fatigue disebabkan munculnya demotivasi untuk mengikuti berbagai langkah perlindungan diri yang dianjurkan.

Pandemic fatigue dilaporkan muncul di berbagai negara seiring dengan adanya peningkatan jumlah orang dengan mulai tidak mengikuti protokol kesehatan tubuh di era New Normal.

Orang-orang juga mulai menekan langkah-langkah melidungi diri serta berkurangnya kekhawatiran mereka terhadap bahaya virus Corona. Dengan adanya kelelahan sebab pandemi ini, orang-orang mulai melecehkan cuci tangan dengan sabun dengan tepat, memakai masker, serta melestarikan jarak fisik yang sebelumnya itu patuhi.

2 dari 3 halaman

Penyebab munculnya Pandemic Fatigue

Profesor Departemen Menuntut Psikiatri dan Perilaku Universitas California, Elissa Epel, mengatakan, munculnya pandemic fatigue adalah respon yang normal.

“Itu adalah respons normal terhadap apa yang berlaku, ” ungkapnya.

Epel menyebutkan, ada beberapa hal dengan menyebabkan munculnya pandemic fatigue. Misalnya, karena dampak pandemi yang menjadikan orang yang bersangkutan kehilangan order atau mereka yang mengalami tekanan finansial.

Kelelahan karena pandemi juga dapat terjadi era orang bosan mengikuti langkah-langkah pencegahan pandemi dan cenderung tidak memasukkan protokol kesehatan.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, dia memahami kesulitan dengan dihadapi orang-orang. Ia pun mendahulukan, setiap orang harus tetap perdata, apalagi di beberapa negara yang dulunya membaik kini kasusnya menyusun lagi.

“Bekerja dari rumah, anak-anak disekolahkan dari senggang jauh, tidak dapat merayakan ketika spesial bersama teman dan suku. Atau tidak berada di sana untuk bersama orang yang dicintai, itu sulit. Dan, kelelahan akibat Covid-19, itu nyata, ” logat Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

3 dari 3 halaman

WHO meminta orang-orang tidak taat di masa pandemi covid-19

Pandemic fatigue dapat dialami oleh siapa pun & ciri-ciri tiap orang yang mengalaminya pun berbeda. Namun beberapa sifat yang sering muncul di antaranya ialah perasaan gelisah, mudah kecil, kurang motivasi dan sulit berkonsentrasi.

WHO pun menodong orang-orang tidak menyerah. Tedros menyebutkan, kelelahan karena pandemi pada dasarnya dirasakan banyak orang.

“Seiring waktu berlalu dan dunia sudah belajar untuk hidup dengan virus dalam kapasitas tertentu, para terampil percaya bahwa menjaga tindakan pencegahan seperti menjaga jarak secara fisik, menutupi dan mencuci tangan mampu terasa semakin menjadi tantangan, ” ujar Tedros.

Ia mengingatkan agar setiap orang membongkar-bongkar caranya masing-masing untuk mengatasi kelelahan ini dan terus waspada terhadap penyebaran virus Corona Covid-19.