Selamatkan Ekonomi Indonesia, Pemerintah Diminta Tak Buat Kebijakan Kontraproduktif

Liputan6. com, Jakarta – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra el Talattov meminta pemerintah tidak membuat kebijakan yang kontraproduktif. Seruan ini agar daya beli asosiasi tidak terganggu sehingga bisa membuat pertumbuhan ekonomi kuartal IV membangun.

“Pemerintah diharapkan bisa membuat kebijakan-kebijakan yang memang sungguh-sungguh bisa menjaga stabilitas daya kulak masyarakat. Jangan membuat kebijakan dengan kontraproduktif terhadap peningkatan daya beli, ” kata Abra kepada Liputan6. com , Senin (9/11/2020).

Kebijakan yang dinilai kontradiktif misalnya keputusan UMP buruh tak terbang di  2021. Abra menilai faktual UMP tidak ada kenaikan bersifat kontraproduktif dalam memulihkan daya kulak masyarakat.

Contoh lainnya, Abra menjelaskan dalam waktu depan ini pemerintah sedang menetapkan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk  kuartal I 2021. Diketahui bersama kalau TDL hingga kuartal IV itu tarifnya masih tetap.

Sejauh ini belum dikeahui apakah  evaluasi TDL di kuartal I 2021 apakah akan naik atau tetap. Kendati begitu Abra mengajukan agar harga-harga yang diatur Pemerintah seperti listrik, BBM, dan lainnya sebisa mungkin tak naik.

Jika naik maka akan memicu lagi pelemahan dari gaya beli masyarakat. Intinya, pemerintah betul berperan dalam proses pemulihan ekonomi di tahun depan.

“Lagi-lagi ini menjadi momentum evaluasi, pemerintah harus segera kembali fokus penanganan covid sehingga pemulihan itu paling tidak bisa dirasakan pada tahun 2020, ” ujarnya.

Menurut Abra, pemerintah tidak bisa lagi menggantungkan pertumbuhan ekonomi untuk kuartal IV dengan mengandalkan konsumsi rumah tangga untuk lekas reborn secepat itu, termasuk swasta.

Satu-satunya belanja pemerintah dengan harus dipercepat di kuartal IV, dan pemerintah diusahakan jangan mendirikan kebijakan-kebijakan yang kontradiktif untuk bangsa, apalagi di masa pandemi covid-19 ini.

2 dari 3 halaman

Indonesia Resesi, Pengusaha Sebut Pertumbuhan Ekonomi Baru Bangkit di 2023

Sebelumnya, Nusantara terbukti resesi, karena  pertumbuhan ekonomi  kuartal III 2020 minus 3, 49 persen. Kamar Dagang & Industri Indonesia (Kadin) memperkirakan lagu ekonomi masih berlanjut hingga tarikh depan di hampir semua zona.

“Untuk pelaku daya, proyeksi tekanan ekonomi diperkirakan sedang akan terus berlanjut hingga sepanjang tahun depan di hampir seluruh sektor. Kami perkirakan sekitar 50 persen pelaku usaha dari berbagai sektor masih akan tertekan sepanjang tahun depan, ” kata Pemangku Ketua Umum  KADIN Shinta Widjaja Kamdani, kepada  Liputan6. com , Kamis (5/11/2020).

Dia memperkiraan angka tersebut bisa lebih tinggi bila vaksin lebih lambat ditemukan atau didistribusikan. Kelanjutan mengenai vaksin ini menjadi kunci perbaikan  pertumbuhan ekonomi  Indonesia ke depannya.

Begitupun secara beberapa sektor seperti penerbangan, pariwisata, dan hotel diproyeksikan tekanannya masih akan terus berlangsung melebihi tarikh depan. Menurut Shinta, tahun 2023 atau 2024 baru bisa normal kembali.

“Jadi, masih berat hingga sepanjang tahun ajaran dan untuk pulih hingga ke level sebelum pandemi perlu proses panjang. Kondisi kita sangat jauh berbeda dengan China yang mampu keluar dari krisis dalam satu kuartal karena supporting factor-nya tak sama, ” jelasnya.

Oleh karena itu, perusahaan mengupayakan segala cara untuk bertahan serta memanfaatkan semua stimulus yang ditawarkan pemerintah sepanjang krisis ini. Perusahaan secara mandiri ikut mendukung pengendalian pandemi di tempat kerja.

Selain itu, pihaknya juga terus melakukan efisiensi-efisiensi, khususnya secara memanfaatkan teknologi, dan menghindari PHK.

“Kami  mendukung negeri Indonesia dalam upaya-upaya mendatangkan investor, memperlancar distribusi stimulus kepada karakter usaha,   follow up   konkrit UU Ciptaker di lapangan, dan penciptaan  breakthrough   reformasi kecendekiaan ekonomi, ” ungkapnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video alternatif berikut ini: