Punya Strategi Baru, Omzet Perajin Batik Banyuwangi Meningkat

Dapatkan promo member baru Pengeluaran HK 2020 – 2021.

Liputan6. com, Jakarta Pandemi membuat semua sektor terdampak. Salah satunya pelaku jalan mikro.   Tetapi di Banyuwangi, para  pelaku usaha mikro memiliki strategi baru. Tidak hanya menyandarkan penjualan konvensional dengan cara tatap muka, kali ini tren daya beli mulai bergeser ke pemasaran online .

Lilik Estiningtyas, pemilik cara Industri Kecil Menengah (IKM)  Batik  Kapuronto di Kelurahan Mojopanggung, kecamatan Giri, Kabupaten  Banyuwangi  mulanya cuma mengandalkan penjualan konvensional dengan cara tatap muka, kali ini memaksa dia harus mempelajari sistem pemasaran online. Penjualan usaha  batiknya pun mulai kembali bangkit.

“Sebelum pandemi beta tidak melakukan pemasaran lewat online. Kalau sekarang kebalikannya, 100 upah pemasaran batik kami lewat online. Jadi memaksimalkan pemasaran lewat media sosial, ” kata Lilik, Rabu (2/12).

Penjualan secara sistem online , kata Lilik, membuat pelanggan merasa lebih nyaman tanpa harus datang ke rumah produksinya. Selain tersebut, pelanggaran juga tidak perlu keluar rumah dan mencegah penularan Covid-19.

“Kalau dulu orang datang sendiri ke sini, tapi sekarang karena pandemi Covid-19 kita ubah semuanya, seperti pemasaran online. Dan malah ada yang perintah dari Singapura dan beberapa negeri di Eropa, ” kata rani yang juga guru di SMPN 3 Banyuwangi ini.

Mulanya, saat awal pandemi, omzet penjualan batik milik Lilik turun drastis. Tutupnya pariwisata sebagai rekan yang cukup dominan juga dirasakan. Sebelum pandemi dia bisa menghasilkan Rp Rp 7 juta tenggat Rp 9 juta per kamar, namun saat pandemi menerpa cuma mampu menghasilkan Rp 3 juta hingga Rp 4 juta.

“Awal Covid-19 yang nyata memang menurun, sekitar 50 upah. Tapi kita masih jalan, walaupun, hanya sedikit yang beli. Untuk sekarang sejak pariwisata kembali dibuka bisa dikatakan mendekati normal, ” ujarnya.

IKM Menulis Kapuronto, menjual aneka ragam kesimpulan lokal Banyuwangi seperti gajah oling, kopi pecah, beras kutah, tobakan dan lain sebagainya. Peluang cara batik tersebut diambil sejak 2018, karena di Banyuwangi terdapat banyak event fashion yang menguatkan perajin batik tumbuh.

“Batik kami bermacam-macam seperti batik gajah oling, tobakan, beras kutah hingga kopi pecah ada di sini. Tapi yang paling disukai saat ini ini adalah motif beras kutah. Di sini ada dua cara pembuatan, yakni batik tulis & batik cap, ” katanya.

(*)