Pengkaji Australia Ungkap Kontradiksi Jokowi pada Bukunya

Jakarta – Peneliti Australia, Ben Bland, menulis buku tentang Presiden Joko Widodo berjudul  Man of Contradictions . Buku itu mencantumkan berbagai kontradiksi di sekitar kepemimpinan Jokowi.

Meski sudah setengah dekade menjadi orang bagian 1 di Indonesia, Presiden Jokowi disebutnya masih mirip wali tanah air.  

Dilaporkan ABC Nusantara , Kamis (3/9/2020), dalam enam bab buku setebal 180 halaman ini, Ben memaparkan bagaimana “seorang pembuat mebel” berhasil menangkap visi bangsa Indonesia tentang sosok kepala yang diidam-idamkan, namun juga penuh “kontradiksi”.

“Kontradiksi tak sepenuhnya konsep yang negatif, akan tetapi menyiratkan Jokowi sedang bertarung untuk mendamaikan banyak persoalan, ” perkataan Ben.  

Ben menjabarkan bagaimana Jokowi mengejar mimpi-mimpi ekonomi, memposisikan dirinya di pusat pergulatan demokrasi dan otoritarianisme, serta di panggung internasional.

Ia mengatakan, Jokowi telah meraih sejumlah pencapaian, kebanyakan di tempat infrastruktur dan kebijakan lain dengan terfokus pada ekonomi.

Ben mengakui jika sosok Jokowi adalah pemimpin yang populer, balik terpilih dengan suara mayoritas dengan naik serta memiliki banyak simpanan politik.

“Pertanyaan hamba adalah bagaimana ia memanfaatkan itu? Ia terus mengatakan ingin memerosokkan Indonesia melewati reformasi, tapi sekitar ini ia sangat berhati-hati, ” ujarnya kepada LETER Indonesia .

2 dari 4 kaca

Wali Kota di Istana Presiden

Dalam bukunya Ben menyebutkan “setelah mengamati dibanding dekat, terlihat bahwa semakin periode Jokowi berada di istana, oleh karena itu semakin pudar pula janji-janjinya. ”

Dikatakan, begitu mengambil periode kedua, sosok yang sebelumnya menawarkan diri bukan bagian lantaran elit politik, telah berubah menjelma elit yang membangun dinasti politiknya sendiri.

“Sosok dengan pernah dipuja karena reputasinya dengan bersih, malah telah memperlemah lembaga pemberantasan korupsi, memicu aksi demonstrasi mahasiswa dan pelajar, ” tulis Ben.

“Kelemahan kepemimpinannya terungkap oleh krisis COVID-19. Pemerintahannya menunjukkan jejak-jejak buruk: tidak menghargai pendapat pakar kesehatan, tidak mempercayai gerakan masyarakat sipil, dan gagal membangun strategi terpadu, ” katanya.

Meski demikian, Ben mengatakan sosok Jokowi masih langgeng populer di tengah pandemi dengan nada kritikan kepadanya pun terdengar “berbeda”.  

Strategi politik Jokowi sangat sederhana, yakni mendengarkan apa yang dikehendaki kaum dan mencoba wujudkannya, seperti yang terlihat “efektif” saat ia menjadi Wali Kota Solo.

“Tapi ketika memerintah sebuah negara berpenduduk begitu banyak, ribuan pulau, beragam agama dan suku, dan 550 wali kota dan gubernur terpilih, jadi 550 Jokowi yang lain yang ingin menjalankan kepemimpinannya masing-masing, maka politik menjadi semakin kompleks, ” jelasnya.

“Selama enam tahun berada di istana, dia belum bisa beranjak ke level strategis. Dia lebih sebagai seorang wali kota di istana presiden, ” kata Ben Bland.

3 dari 4 halaman

Sedang Ada Harapan?

Ben mengatakan, masih ada harapan untuk melihat kepemimpinannya bersambung di Indonesia hingga 2024 mendatang.

“Tapi kita perlu mengakui adanya kekecewaan terhadap Jokowi dari para pendukungnya sendiri, ” ujar Ben kepada ABC Indonesia .

“Ini menunjukkan Indonesia sebagai sebuah negara yang besar, kompleks, dan terus menghadapi banyak tantangan, ” jelas Ben.

Ben juga mengatakan jika di di dalam bukunya ia juga membahas sebanyak kontradiksi bukan sekedar pada sosok dan kepemimpinan seseorang, tapi mencakup hal yang lebih luas.  

Ben mengaku bila ia sudah menghabiskan hampir 20 tahun untuk memahami Indonesia, dimulai dengan menjadi seorang mahasiswa belajar politik Indonesia, kemudian koresponden media internasional, dan kini sebagai penyelidik di Lowy Institute.

Dalam delapan tahun terakhir, Ben mengatakan ia terpikat dengan kemunculan dan kerja keras Jokowi.

“Selain dari wawancara dengan presiden, saya juga berbicara secara puluhan menteri, pejabat, pengusaha pendukung Jokowi serta pengikut-pengikutnya untuk memahaminya, ” jelas Ben.

Ben menuturkan, dia menemui tepat warga masyarakat biasa di asing Jakarta, mendatangi berbagai tempat pada Indonesia, dengan menggunakan pesawat, mobil, kapal ferry, perahu, becak, tenggat dokar.

“Saya bersyukur sekali kebanyakan orang Indonesia dengan saya temui selalu menyambut indah segala pertanyaan saya, ” katanya.

Ben mengakui karyanya ini bukan biografi dalam bentuk konvensional, namun ia juga tidak bisa menguraikan seluruh aspek kehidupan Jokowi. “Saya hanya ingin menunggangi kisah pembuat mebel dari tanah air kecil yang menjadi pemimpin dunia untuk mengangkat cerita tentang Indonesia, ” jelasnya.

Hanya dengan memahami kontradiksi-kontradiksi Jokowi, katanya, maka orang bisa memahami sepenuhnya arah Jokowi dan negara dengan dipimpinnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Tersebut: