6 Faktor Pengaruhi Ketidakstabilan Harga Karet di Sumsel

Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

Liputan6. com, Palembang – Naik turunnya harga karet di Sumatera Selatan (Sumsel), dirasakan pengusaha perkebunan karet setiap hari.

Asisten Sekretaris Eksekutif Gabungan Kongsi Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Sinar Ahmadi mengatakan, rata-rata setiap kamar harga menurun hanya per sekian rupiah.

Seperti pada bulan Desember 2020 lalu, kehormatan karet mencapai Rp 14. 097 per Kilogram (Kg). Namun kini, harga karet merosot di nilai Rp 13. 924 per Kg, untuk kondisi Kadar Karet Kering (KKK) 70 persen.

Untuk harga longgar juga, tergantung dari kadarnya dengan setiap harinya berbeda-beda. Ada KKK dari 40-70 persen hingga 100 persen.

“Ini karena pasar uang internasional, permintaan konsumen, dan tersedianya karet. Tapi stok karet di Sumsel selalu ada setiap hari, ” ucapnya,

Dia mengatakan, kualitas longgar ekspor atau Standar Indonesia Rubber (SIR), telah melalui proses pengerjaan di pabrik.

Gapkindo Sumsel sendiri, menaungi 29 unit pabrik di Sumsel. Selain pada Sumsel, ada juga di Uzur Belitung.

“Kami sebagai asosiasi yang ditunjuk, untuk mengurusi karet Indonesia, khususnya di wilayah Sumsel, ” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bagian (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel Rudi Arpian menuturkan, harga komoditi karet di wilayahnya sangat tergantung dengan harga internasional.

“Harga tersebut tergantung khususnya di Bursa Singapore Comodity (SICOM). Setiap hari harga bisa terangkat atau turun, ” katanya dalam Palembang Sumsel.

Menurutnya, ada enam faktor yang mempengaruhi harag karet di pasar global. Yaitu, nilai tukar rupiah terhadap dollar, penggunaan karet sintetis sebagai competitor karet alam dan suplay dan demand di pasar karet universal.

Lalu, perkembangan industri berbahan baku karet, faktor cuaca dan hama penyakit, serta tipuan spekulan di Pasar Berjangka International.

dua dari 4 halaman

Nilai Karet Sumsel

“Sejak masa pendemi Covid-19, nilai di pasar internasional mendapat harga keseimbangan baru, suplay sama dengan demand, ” ujarnya.

Salah satunya karena permintaah industri hilir berbahan baku karet yang menurun. Serta produksi karet sebab negara produsen yang juga meluncur. Ini merupakan dampak dari penyakit gugur daun tahun lalu dengan belum pulih dan cuaca ekstrim di negara produsen karet.

“Untuk Sumsel harga FOB Rp18. 000 – Rp19. 000 per Kg untuk KKK 100 persen sudah cukup baik. Tersebut berlangsung sejak pekan kedua di dalam Oktober, sampai pekan ketiga dalam Februari 2021, ” katanya.

3 sejak 4 halaman

Umur Simpan Bokar

Di tingkat kelembagaan Petani UPPB, harga saat tersebut berfluktuasi antara Rp9. 000 kacau Rp 11. 000 per Kg untuk karet mingguan, dengan KKK antara 50 persen hingga 60 persen.

Sedangkan dalam luar UPPB, sekitar 75 obat jerih dari jumlah petani karet dalam Sumsel, hanya menikmati harga Rp 6. 000 – Rp8. 000 per kg. Hal tersebut karena kualitas KKK hanya sebesar 50 persen.

“Itu karena umur simpan bokar mereka tidak sampai satu pekan. Biasanya sempurna 2-3 hari sudah mereka jual, karena kebutuhan rumah tangga yang mendesak. Bahkan ada kebiasan petani, merendam karet ke dalam bak serta tidak menjaga kebersihan karet dari tatal dan tanah, ” katanya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Itu: